KADO PUISI UNTUK PEREMPUAN. Oleh Eny Winaryati

Dibelakang altar Tanah Magnit. Sungguh Haji yang sangat menyenangkan

Dibelakang altar Tanah Magnit. Sungguh Haji yang sangat menyenangkan

Perempuan. Oh. Perempuan. Agama telah menempatkanmu pada ranah nan mulia. Naif. Jika engkau terpinggirkan. Ketidakberdayaan fisik, dan ekonomi terkadang menjadi sasaran. Hal ini telah digambarkan oleh Kartini dalam suratnya kepada Ny. Abendanon (21  Desember 1900): saya hidup dalam neraka itu. Saya melihat orang menderita dan sayapun menderita sendiri melihat kepedihan mama saya, karena saya adalah anaknya. Dalam kemegahan, dan kehidupannya yang serba tercukupi, terkungkung kapasitas kebebasannya sebagai manusia. Realitas historis diatas, menjadi spirit perjuangan bagi kaum perempuan  sekarang ini, juga di masa yang akan datang.

Mamak/ Payudaramu menggelantung dalam sesak dadamu/ Yang terlelap pulas di hamparan waktu/ Kulitmu mengering sendiri tanpa pernah kau tahu… // Paruh waktu habis mengikis usiamu/ Menimbun derita dari harap anakmu// Mamak/ Desing angin melibas penat sepanjang waktu ini/ Waktu! Ya waktu/ Kau pun sangat akrab dengan detak-detaknya/ Terkejar oleh piring-piring yang harus kau isi/ Sebutir nasi, bergulir ditanah bekas pijakanmu/ Kaupun menjumputnya. Mulutmu terbuka lebar/ dan melumat sampai habis. Menikmati// Mamak/ Mari sampirkan kakimu didua tangan ini/ Biarkan pijatan ini mengurai penatmu/ Mamak, izinkan aku membuka lipatan urat  yang biru lebam/ Yang telah jadi baja/ Bisikan ini tlah lebih dulu terkirim dalam tatapanmu//  Duhai anakku kerlip Qurrota a’yun telah jadi pelipurku/ Hembusan bau hidungmu, jadi obat rindu yang bersemanyam/ Tutur sapamu, mengingatkanku pada Fatimah Azzahro/ Air susu ini tlah menghiasi akhlakmu/ Cinta ini tak kan pudar/ Seperti kasih sayang Aminah pada Muhammad/ ”Duhai anakku…….”/ Tanganmu tertaruhkan dikaki ini ntuk berlari kencang/ Bak bayu yang melaju/ “Tak apa anakku.” Suaru itu bertambah lirih/ Kemudian lenyap ditelan bumi; bersama raga mampir dan berhenti disini/ Kecuali do’a anak sholeh/ Sebuah pengharapan yang tak berhenti sampai dunia menjelang kiamat, (Agustus, 2006).

Perempuan. Semangat berjuang demi masa depan anak, dan sesamanya, sering menjadi pemacu dirinya untuk bersungguh-sungguh. Tanpa pamrih. Tanpa lelah.  Menjadikannya sebagai motivasi untuk melangkah. Budaya patriarki tidak mungkin dihadapi seoarang diri. Perlu sosialisasi kesadaran gender yang lebih luas ke masyarakat, dan sasaran kegiatan yang beragam. Karena pada hakekatnya persoalan perempuan adalah persoalan kita semua bangsa Indonesia.

Salam takzimku untukmu duhai perempuan/ Lontaran kata terbaca oleh hatimu yang putih/ putih seputih salju/ yang beku dan kokoh ditempatmu/ bak kegigihan perjuangan yang tak legam/ entah panas kan datang atau pergi/ Kau berjuang sendiri.  tanpa pamrih…..// Tatapanmu wahai perempuan/ sorot mata terpancar ketulusan/ Tulus. Setulus benang sari yang ikhlas manakala disinggahi/ tak pernah menolak!/ tlah jadikan obat dari sekian penyakit/ Sungguh! Aku tertambat dihatimu yang menawan/ Hanya aku yang tahu gejolak tersimpan/ tidak juga mereka yang suka tertawan/ Hanya tahu sekelumit/ tlah berkata penyelamat// Perempuan, perempuan/ Aku singgah untukmu/ Aku berdiri ntuk menantimu/ Aku terbaring mengajakmu melepas penat/ Lihatlah duhai perempuanku/ Langit-langit kamarmu berkehendak menyelimuti tubuhmu/ setiap kali kau telentang, kan tersungging senyuman/ Jangan! Kau melangkah pergi sebelum kasurmu jadi permadani/ seperti doamu sebelum terkatup matamu/ dan, kau jadi bidadari di surga/ Juga terucap dari bibirmu Subkhanallah…… (September, 2006).

Bersama saudaraku dari afrika, saat di masjidil harom. Sungguh di belahan bumi manapun kita dalah saudara

Bersama saudaraku dari afrika, saat di masjidil harom.
Sungguh di belahan bumi manapun kita dalah saudara

Perempuan. Memiliki keterbiasaan membagi waktu, tenaga dan pikiran, demi masa depan keluarga, masyarakat dan bangsa. Berjuang di ranah persoalan perempuan, manjadi bagian yang harus dipikirkannya.  Kupanggil kamu siselimut. Memang kebutuhan itu isaratkan/ Kadang juga siburung camar/ Lain kali kan kusapa si jenaka/ Kau juga seperti kancil dan lumba-lumba/ Ah!. Tapi juga bisa jadi serigala.- yang meraung dan akan menerkam/ Juga  kupu-kupu yang aneka. dengan segenap pesona/ Hai.! kan kupanggil kau sikancil. Melompat-lompat dan lincah/ yang cerdik dan cemerlang/ Aku kan menyapamu simerah/ yang gagah berani/ pantang menyerah/ gigih menatap masa depan/ Aku juga kan memanggilmu siputih/ karna kelembutanmu, menyirnakan kekesalan/ meluluh lantakkan dendam kesumat yang hendak singgah/ Aku masih punya simpanan nama untukmu/ Kan kupanggil kau pelangi. Sungguh! Mentakjubkan/ Seperti aneka cipta yang ingin kau tuju/ meski sulit menjangkau, kau masih punya harap. meski sekejab/ AHA!. Kau juga seperti bintang,  dengan sejuta cita/ Sinarmu terpancar memancar diantero/ Kan kujemput kau dengan namamu sendiri/ PEREMPUAN (September, 2006).

……………………………………..Allah, ya Robby. Ingin kuberlari. mencariMU/ Meski gelap memekat. Kan kuterjang. Karena rindu ini tlah memuncak/ Kutatap bintang. Pendar itu membuatku semangat. Secercah sinar, dan akupun melangkah/ Kulihat rembulan. Cahayanya putih memancar. Aku ingin berlari/ Seperti, pancaran mentari di pagi hari. Badanku segar kembali.

itu arti, dari hatimu yang belum terucap (Mei, 2006).

Saat di Amsterdam

Saat di Amsterdam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com