Penanaman Fanatisme dan Kreativitas Tentang “Potensi Daerah” Sejak Usia Dini. (OLEH: ENY WINARYATI).

Fanatisme terhadap Potensi Daerah perlu ditanamkan sejak usia dini dan anak-anak.  Anakpun  akan tumbuh kecintaan terhadap daerahnya, rasa ingin tahu dan daya imajinasi yang tinggi. Harapannya kelak mereka akan berkembang wawasan kreativitasnya. Potensi daerah, didayagunakan dan dikembangkan secara maksimal oleh guru/sekolah,  dalam proses pembelajarannya dan diimplementasikan pada  seluruh mata pelajaran yang ada, melalui proses pembelajaran “active learning”.  Melalui otonomi daerah, pemerintah diharapkan dapat mensinergikan seluruh potensi yang ada untuk mendukung pelaksaanaanya.

eny9

Berbagai program relisasi “Bali Deso, Bangun Deso” yang dicanangkan oleh Gubernur Bibit Waluyo, mendapat dukungan dari berbagai pihak. Termasuk dari kalangan akademisi. Seperti yang disampaikan oleh Saratri Wilonoyudho (SM, 26/5/2010), menyampaikan konsep pemberdayaan  baik SDM maupun SDA yang ada di desa melalui suatu konsep penguatan kembali etos kerja dan kreativitas orang desa.  Harapannya agar  desa tidak dijadikan sebagai sumber eksploitasi. Sebagai pemertegas dengan apa yang disampaikan oleh Saratri Wilonoyudho, adalah bagaimana mensinergikan seluruh potensi yang dimiliki daerah oleh PEMDA,  untuk diimplementasikan pada masyarakat sejak usia dini.

Kemajuan teknologi menjadi dukungan kuat untuk memajukan. Pemilihan teknologi yang ramah lingkungan, melalui kerjasama dengan dewan peneliti, kemudahan kemajuan akan diperoleh. Ketergantungan kepada pihak luar sudah harus dihilangkan. Berkenaan dengan ini, adalah, bagaimana memunculkan fanatisme yang kuat kepada masyarakat pedesaan. Fanatisme tentang potensi daerah sudah harus ditumbuhkan sejak usia dini dan anak-anak. Harapannya akan memunculkan semangat serta kreativitas untuk mengembangkannya. Konsep ini ditanamkan kepada anak, ketika  berada pada bangku pendidikan. Melalui pengenalan, penguatan dan selalu mengkaitkan pada setiap pembelajaran tentang potensi daerahnya, baik meliputi bidang pertanian, ekonomi, peridustrian, kehutanan, bahari, budaya, sosial, bahasa, TIK, dll.

Konsep pembelajaran diatas, akan lebih mendekatakan siswa pada pembelajaran yang lebih bermakna. Yakni pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approach) atau pembelajaran active learning.  Keragamanan potensi daerah/karakteristik daerah dijadikan sebagai laboratorium dan sumber pembelajaran. Tujuan dari konsep ini adalah agar generasi penerus didaerah memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengelola potensi daerah secara mandiri, kreatif dan produktif. Sebaik-baiknya generasi penerus  adalah mereka yang mampu berkarya unggul untuk membangun dan mengembangkan setiap potensi yang ada didaerahnya secara proposional dan berkelanjutan. Dewasa ini, banyak generasi muda yang belum dapat memaksimalkan potensi daerah yang ada untuk dikembangkan, bagi kepentingan kelangsungan hidupnya.

Sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2003, diharapkan agar  kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Bupati/walikota melalui otonomi daerah dapat mengaturnya melalui pelaksanaan Permen No. 22 dan 23, yang dirinci dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan  (KTSP). Sehingga sekolah termasuk guru, memiliki kewenangan penuh untuk memajukan dan menggali potensi daerah dalam setiap pembelajarannya. Selama ini yang telah dilaksanakan dan terinci dalam KTSP, adalah mapel mulok. Mulok memberi penguatan hanya 1 atau 2 potensi yang ada dalam setiap semesternya. Potensi daerah melalui pembelajaran yang diintegrasikan pada semua mata pelajaran, belum dilikasanakan.

Konsep integrasi disini adalah bagaimana agar potensi daerah menjadi kunci pembelajaran. Pemberian contoh, proses, konsep tentang potensi daerah selalu disampaikan. Baik guru maupun murid akan memiliki keterpanggilan untuk lebih mendalami lagi potensi daerahnya. Melalui mulok yang dikembangkan selama ini, murid hanya tahu satu atau dua dari potensi yang ada. Maka perlu dicari suatu  pendekatan pembelajaran laiinnya agar siswa dapat lebih mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya, memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya. Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai/aturan-aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya dan SDA setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional. Sehingga potensi daerah baik positif (kelebihan) maupun negatif (kekurangan), dapat diketahui, dipahami, dilaksanakan, dan dikembangkan agar diperoleh suatu kemanfaatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com