GERAKAN SEJUTA LRB, untuk Kota SEMARANG (OLEH: ENY WINARYATI)

Tetumbuhanpun enggan menyapa
telanjur pudarkan warna, meluruh……..
tak ada kesempatan meresap di akar, 
ntuk dominasi setiap rongga.
Julur air merajah sendi jalanan. 
membiarkan  metan menaik ke tangga langit. 
DUH! Sedikitpun tak berikan waktu, 
kalau tubuh ini tengah berkelana mencari nilai.

eny 15

 

Kota Semarang, teramat akrab dengan  “Banjir dan Macet,. Faktor manusia (kelalaian), aparat (kesungguhan) juga karena faktor kondisi seperti selokan yang macet, sengaja dimatikan (untuk usaha), atau tidak ada selokannya. Hal ini diperburuk dengan kondisi sungai yang dangkal, tertimbun banyak sampah, terutama plastik. Sebagian orang, menganggap bahwa sungai adalah tempat pembuangan akhir. Banyaknya gedung megah berdiri, diikuti dengan teknik pengambilan air secara besar-besaran, ikut memperparah kondisi tanah dan air di Semarang. Kondisi ini akan semakin lengkap, bila jalanan banyak yang berlubang. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mengatasi permasalahan ini, agar muncul kepedulian oleh semua orang, sekolah, instansi, pemerintah, pengusaha, dan masyarakat, untuk mengatasinya. Salah satunya melalui pembuatan LRB (Lubang Resapan Biopori).

Teknologi LRB ini merupakan hasil karya Ir Kamir R Brata, MSc, Staf Dept Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian IPB. LRB merupakan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir. LRB bisa dibuat di halaman rumah, dasar saluran air/selokan, atau di mana saja yang menjadi areal genangan air. Tidak hanya di tanah, lubang LRB  bisa juga dibuat di permukaan tanah yang sudah tertutup semen.

LRB adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 – 30 cm dan kedalaman sekitar 100 cm dengan mengunakan bor tanah. Jarak antar lubang 50-100 cm atau tergantung kebutuhan. Setiap lubang diisi dengan sampah organik (sisa masakan, dedaunan, dll). Setelah sampah organik yang berada di bawah membusuk menjadi kompos, maka perlu untuk diisi sampah organik baru. Begitu seterusnya. Lubang bisa ditutup dengan kawat kasa, agar orang yang berjalan di atasnya tidak terperosok. Sampah ini berfungsi untuk memicu aktivitas fauna tanah (seperti cacing dan organisme tanah lainnya), kemudian menghasilkan pori-pori (biopori).

Melalui LRB maka akan meningkatkan daya resapan air, setidaknya sebesar luas kolom/dinding lubang. Oleh aktivitas organisme tanah, terutama fauna tanah dan akar tanaman, tercipta rongga-rongga didalam tanah yang akan dijadikan sebagai saluran air untuk meresap kedalam tubuh tanah. Genangan air akan meresap kedalam tanah, dan persoalan banjir akan teratasi.

Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang LRB, dijadikan sebagai sumber energi bagi organisme tanah, untuk diubah menjadi kompos, yang dapat dipanen pada periode tertentu. Perubahan menjadi kompos dan meningkatnya pembentukan biopori yang dapat memperlancar peresapan air dan pertukaran O2 dan CO2 di dalam tanah. Hal ini akan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan); berarti akan mengurangi pemanasan global. Melalui LRB, permasalahan penumpukan sampah., dan berbagai penyakit yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria, dapat diatasi .

LRB dapat pula digunakan untuk mengatasi persoalan kekeringan air tanah. Pertumbuhan industri, gedung dan populasi penduduk, menuntut kebutuhan air tanah semakin besar, melalui penyedotan air secara besar-besaran.  Ketersediaan tanah untuk resapan air hujan tertutup oleh bangunan. LRB akan mengisi ruang-ruang kosong pada tanah dan mengisi air yang hilang atau disedot, serta mencegah terjadinya krisis air,  yang dewasa ini sudah mulai dirasakan.

Sosialisasi pelaksanaan LRB, membutuhkan keterlibatan berbagai fihak. Peran peneliti untuk suatu riset yang berkaitan dengan LRB sangat diperlukan, melalui kerjasama dengan perguruan tinggi. Pelaksanaan di sekolah, akan memberikan pembelajaran yang bermakna, karena siswa dilibatkan secara langsung dengan persoalan yang terjadi, sebagai implementasi pembelajaran yang berbasis KBK (Kompetensi dan Kontekstual). Bagi instansi, dan masyarakat akan memiliki tanggung jawab untuk ikut peduli. Mengingat harga bor tanah yang sangat murah,  dan mudah dikerjakan oleh semua orang, maka pencanangan  gerakan sejuta LRB untuk kota Semarang, perlu untuk digalakkan.

Sebagai perenungan bersama, bahwa Allah menciptakan  alam ini tidak ada yang sia-sia. Antara mahluk hidup maupun tidak hidup terjadi simbiosis mutualisme. Sampah, tanah, air, udara, manusia, mahluk hidup lainnya, saling membutuhkan,  mengisi dan melengkapi (Al Qur’an).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com