KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA: Awal Kerentanan Fungsi Reproduksi. (OLEH: ENY WINAYATI)

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, tertinggi di Asia Tenggara. Diantara faktor penyebabnya adalah ancaman kesehatan reproduksi. Kesehatan wanita dimasa dewasa dan tua tidak terlepas dari kondisi sebelumnya yaitu masa remaja. Masa remaja sangat rentan dengan berbagai persoalan kesehatan repoduksi. Merupakan masa yang tepat untuk intervensi pendidikan dasar tentang kesehatan reproduksi, melalui berbagai media, dan  cara penyampaian, dengan strategi model pembelajaran yang kreaif dan komunikatif.

DSCI0166 1

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (2008) adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup, tertinggi di Asia Tenggara. Diantara penyebabnya adalah tingginya angka kematian akibat komplikasi pada kehamilan dan persalinan, aborsi yang tidak aman, penyakit menular seksual dan kangker reproduktif. Kematian banyak terjadi, terutama pada masyarakat miskin dan tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan reproduksi yang komprehensif. Ancaman kesehatan reproduktif  ini, membutuhkan pemahaman dan penerapan melalui berbagai strategi. Harapannya secara perlahan namun pasti dapat mengurangi AKI. Pemerintah melalui dinas kesehatan, yang didukung oleh LSM, ORMASY, sekolah, PKK, dengan berbagai bentuk kegiatan seperti penyuluhan, pelatihan, optimalisasi peran  posyandu, karang taruna, dll. Kesemuanya tertumpu pada satu tujuan, yaitu meningkatnya derajad kesehatan kususnya bagi perempuan, umumnya bangsa Indonesia.  Mengingat jumlah penduduk berdasarkan data pilah angka harapan hidup di Jawa Tengah adalah perempuan (72,9%), laki-laki (69%), di Indonesia perempuan (66,8%), laki-laki (70,7%) (2007). Hal ini mengindikasikan bahwa pemberdaayaan perempuan melalui kesehatan reproduksi, akan berdampak pula pada pembangunan bangsa Indonesia; karena masalah kesehatan reproduksi sesunggguhnya juga merupakan persoalan bangsa. Persoalan kesehatan reproduksi meliputi kondisi fisik, mental dan sosial yang berkaitan dengan fungsi dan proses sistem reproduksi.

Kesehatan wanita dimasa dewasa dan tua tidak terlepas dari kondisi sebelumnya yaitu masa remaja, dan anak-anak. Pada masa anak-anak (6-12 th), pendidikan seks sudah harus diberikan, sesuai dengan kondisi dan kadar kemampuannya. Masa remaja (12-18 tahun), merupakan periode yang sangat penting dan berpengaruh terhadap perkembangan pola tingkah lakunya di masa tua. Merupakan masa, sejak puber sampai saat dimana anak itu telah mencapai kedewasaan, baik phychologis,  seksual maupun physiologis. Remaja pada awal perkembangannya (12 -13 tahun), terdapat perbedaan pertumbuhan fisiologis dan perubahan sosial yang berbeda dengan ketika anak-anak. Dalam dirinya terjadi perubahan alat reproduksi dan pertumbuhan tubuhnya secara keseluruhan. Masa remaja, merupakan masa transisi, baik dari sudut biologis, psikologis, sosial maupun ekonomis, penuh dengan gejolak dan goncangan. Pada masa ini timbul minat kepada lawan jenisnya dan secara biologis alat kelaminnya sudah produktif. Remaja menganggap bahwa dirinya sudah dewasa dan ia perlu kebebasan yang lebih. Dari sinilah muncul perbedaan konflik antara orang tua dan remaja. Sementara itu dalam perkembangannya, pribadi dari para remaja mengalami banyak masalah dalam penyesuaian diri bila dibanding dengan masa sebelumnya. Pada saat ini, peran keluarga dan guru sangat dibutuhkan  untuk membimbing para remaja kearah yang benar. Masa remaja merupakan masa pertumbuhan menjadi seorang wanita yang dewasa, dan merupakan masa yang penting dan menentukan. Pada masa ini peningkatan status kesehatan dan pertumbuhan yang memadai dapat membantu menopang kebutuhan aktivitas-aktivitas yang membutuhkan banyak energi  pada masa dewasa kelak, misalnya pekerjaan manual yang berat atau perawatan anak. Oleh sebab itu pada masa remaja  merupakan masa yang tepat untuk intervensi pendidikan dasar tentang kesehatan.

Persoalan yang dihadapi remaja, karena kelabilannya membutuhkan penanganan yang serius. Sementara itu kemajuan Teknologi Informasi (TI), baru direspon secara mentah oleh remaja. Ketidaksiapan menghadapi perkembangan TI ini, berdampak pada perilaku “bebas” di kalangan remaja. Kemajuan TI disikapi sebagai kemudahan untuk melayani kebutuhan kemudahan ansich. Beberapa penelitian telah mensiratkannya, keberadaan TV dengan perangkat pendukungnya, telah banyak disalah gunakan oleh sebagian remaja. Berdasarkan hasil penelitian penulis, terhadap 217 siswi SMP swasta di Kota Semarang tahun 2008, untuk kelas 2 dan 3 didapatkan data  (23%) pernah melihat film porno. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Bila ditilik berkenaan dengan pengetahuannya tentang kesehatan reproduksinya diperoleh gambaran sebagian besar (99%) berada pada kategor sedang dan kurang;  meliputi: pengetahuan tentang mens, seks, penyakit kelamin, dan KB.  Minimnya pengetahuan ini akan berpengaruh terhadap perilakunya. Hal ini dapat dilihat sekitar 9 siswi (4 %)  diantaranya telah melakukan hubungan seks, dengan pacarnya, saudaranya dan orang tuanya. Bila ditilk dari pekerjaan bapak ditemukan sebagai  buruh (30%), tidak bekerja (6,5%); sementara pekerjaan Ibu (20,7%) menjadi buruh. Kondisi ekonomi keluarga yang kurang beruntung, ikut mempengaruhi perkembangan anak.  Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh penulis, terhadap buruh perempuan pada salah satu pabrik di Kota Semarang, dari 88 sampel, diperoleh data 4 orang (4,3 %) menyatakan pernah melakukan hubungan suami isteri, dengan alasan suka sama suka dan 1 orang diperkosa. Berdasarkan hasil analisis terhadap perilaku kesehatan reproduksi terhadap sampel yang sama, diperoleh data 42% berperilaku kurang, dengan pemahaman berkenaan dengan hubungan seks pada saat mens masih diperoleh data 22 % setuju, dengan alasan tidak tahu.

Pemahaman remaja tentang berbagai masalah yang terkait dengan kesehatan reproduksi dapat diperoleh melalui berbagai informasi. Baik melalui media elektronika, majalah, koran, atau informasi lainnya. Sebagian besar diperoleh dari hasil diskusinya dengan teman/pacar/tunangan sendiri dan media informasi.  Sementara itu porsi petugas KB/Kesehatan/Kader, Orang Tua, Guru, dan Dokter menjadi pilihan terakhir. Berdasarkan penelitian terhadap siswi SMP, persoalan tentang seksiologi sebagian besar (73%) diperoleh dari media informasi, kakak/saudara dan diskusi dengan teman. Pada buruh perempuan 78%, informasi tentang seks dapat diperoleh dari diskusi dengan teman dan pacar. Hasil penelitian terhadap siswi salah satu SLTA di Semarang, diperoleh data bahwa sebagian besar 65% permasalahan tentang seksiologi disampaikan kepada temannya. Hal ini dimungkinkan karena 40 % siswinya tinggal dipondokan. Informasi dan persoalan seks seharusnya diperoleh dan disampaikan oleh dan atau kepada orang tua, kepada Guru/Ustadz atau pegawai kesehatan. Perolehan informasi yang kurang tepat, akan berdampak pada minimnya pengetahuan remaja. Dari gambaran tersebut terlihat bahwa sumber informasi yang paling bertanggung jawab yaitu orang tua dan guru justru terkecil. Beberapa faktor masih rendahnya komunikasi dengan orang tua mungkin disebabkan masih minimnya pengetahuan orang tua, perasaan tabu untuk membicarakan tentang seks kepada anaknya atau anak kepada orang tua, kesibukan/kesempatan komunikasi yang terbatas.

Gambaran diatas, bila ditilik berkenaan dengan kesehatan reproduksi yang dialami oleh siswi SMP (dari 217 siswi), diperoleh gambaran  57% berada dalam kategori sedang dan kurang. Persebarannya 29% siswi  memiliki keluhan pada alat kelaminnya. 1 siswi merasakan panas pada alat kelaminnya pada waktu kencing, 10 siswi (5%) merasakan gatal pada  alat kelaminnya, 97 siswi (45%) mengalami keputihan. Berdasarkan pengukuran terhadap kadar Hb pada buruh pabrik terhadap 88 sampel didapatkan data kadar Hbnya sebagian besar 56%  kurang normal. Pada penelitian lain terhadap ibu post partum (pasca melahirkan) di kecamatan Guntur Kabupaten Demak diperoleh data sebagian besar (86%) terkena anemia ringan (bila kadar Hbnya  9-10 gr%) dan sedang (bila kadar Hbnya 7-8gr%). Kadar Hb normal wanita adalah antara 12 – 16 gram %.

Berdasar runutan persoalan dan kondisi remaja diatas, maka perlu dacari langkah-langkah yang strategis sebagai sarana pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja yang dapat memberikan penjelasan secara detail tentang alat-alat reproduksi mulai dari pembuahan sampai hamil dan melahirkan, cara merawat organ kewanitaan dan dampaknya, cara mengatasinya, cara pemakaian dan pemilihan pembalut, keluhan seputar alat kelamin wanita,  kebiasaan menjaga kebersihan, termasuk kebersihan organ-organ seksual atau reproduksi, sebab dan dampaknya hubungan atau kontak seksual pada usia di bawah 17 tahun, berbagai jenis, sebab  dan akibat diri penyakit kelamin, tentang penyakit kangker, dampak perilaku seks yang salah, sebab tingginya kematian ibu (perdarahan, Kekuranagan Energi Kronis, Anemia dll), juga persoalan yang dihadapi sebagian remaja, mulai dari masalah yang paling umum, sederhana, tapi juga sekaligus ”rumit”, yaitu seputar kisah asmara, sampai masalah-masalah yang bergesekan dengan hukum dan tatanan sosial yang berlaku di sekitar kita, nge-drugs, malak, bolos sekolah, kekerasan dalam pacaran, dan pemerkosaan.       Mengingat minat untuk berkelompok ada pada sebagian remaja oleh karenanya perlu difasilitasi dengan terbentuknya kelompok-kelompok/organisasi yang dibawah pembimbingan orang dewasa. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi dapat diberikan  melalui berbagai media, cara/strategi penyampaian  dengan berbagai strategi model pembelajaran yang komuniatif. (data diatas didasarkan dari 4 judul hasil penelitian penulis sejak tahun 2005 sampai 2008).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com